udul : The Brown and The White Chapter 2
Author : Azmi Evans
Cast : Exo member, Prof. Colin Morgan, Hanna Morgan, Shin Airi, Siwon, Yesung and all cast
Genre : Action, sains, brothership, romance, fantasy
Annyeonghaseyo...
Chapter 2
The Sadly Man
Seoul, Korea selatan, 2015...
Udara pagi
ini begitu menyusuk, sudah mendekati awal musim dingin. Di pinggiran jalan
banyak orang-orang berlalu lalang melakukan aktifitas masing-masing, di halte
bus tampak seorang pemuda berkulit coklat duduk melamun memandangi orang-orang
yang melintas di depannya. Pandangan matanya menerawang, dia seolah-olah
kehilangan kesadaran namun matanya tetap tebuka lebar.
Seorang pria tua
bertopi kulit, berwajah seperti orang eropa melihat sosok pemuda aneh yang
tidak beranjak dari tempatnya beberapa jam yang lalu, pria tua itu menyentuh
kaca matanya dan menajamkan pandangannya pada sosok anak muda yang pandangannya
terus menerawang. Pria tua itu menyadari ada yang aneh pada anak muda ini,
kepalanya ada luka memar dan hidungnya masih tersisa darah yang sudah
mengering, dan sudut bibirnya ada luka sobekan kecil namun tetap terlihat
jelas.
"Permisi anak muda..." pria tua itu
berusaha menyapa pemuda itu dengan ragu, namun dia merasa tidak tega jika
melihat keadaan pemuda itu dari jarak yang dekat.
Pemuda itu hanya menoleh namun tetap diam tanpa
mengucapkan sepatah katapun. Namun Pria tua berwajah asing itu tidak menyerah
begitu saja.
"Nak, ada yang bisa saya bantu ?" tanya
pria tua itu, dia cukup fasih berbahasa korea meski logatnya tidak sekental
warga Korea yang asli.
Namun tetap tidak ada jawaban dari mulut pemuda
itu, dia masih diam seribu bahasa. Tapi terlihat dari sorot matanya yang sendu,
dia terlihat sangat sedih bukan hanya sedih lebih tepatnya dari sorot matanya
dia terlihat begitu menderita, meskipun ini hanya dugaan pria tua itu saja.
"Nak... ?" tanya pria tua itu kembali,
dia terkejut melihat tetesan bening keluar dari mata pemuda itu namun dia tetap
tidak bersuara. Pemuda itu terlihat menahan air matanya sekuat tenaga, dia
mengepalkan tangannya yang bergetar hebat.
"Kau baik-baik saja ?" pria tua itu
mulai mengambil tindakan, dia menyentuh pundak pemuda berkulit putih kecoklatan
itu.
"Ukh... !" ucapnya samar, dia
seolah-olah mengeluhkan sesuatu. Pria tua itu duduk di samping pemuda itu, dia
mencoba menenangkan anak muda yang baru saja dia temui.
"Jika ada sesuatu, katakan saja. Mungkin
paman bisa menolongmu ?" tanya pria tua itu menawarkan bantuan
"A...adik...Adikku.." jawabnya
terbata-bata, tubuhnya gemetar hebat sampai mengeluarkan keringat dingin.
"Kenapa dengan adikmu ?"
"To...tolong adikku... tolong selamatkan
adikku... kalau tidak dia bisa mati" jawabnya lirih. Pria tua itu kaget
mendengar ucapan pemuda itu, tepat seperti dugaannya ada yang tidak beres
dengan anak ini saat pertama kali dia melihatnya.
"Dimana adikmu sekarang ?" tanya pria
tua itu sambil berdiri dan mengangkat tasnya.
"Dirumah" jawabnya singkat.
"Kalau begitu, bawa paman kerumahmu
sekarang... cepat !" perintahnya.
Dengan bergegas mereka menyetop sebuah taxi yang
melintas dan membawa mereka ke sebuah tempat yang cukup terpencil.
"Dimana rumahmu ?" tanya pria tua itu.
Dia bingung melihat keadaan di sekelilingnya tidak ada rumah, yang terlihat
hanya padang bunga dan pepohonan yang tinggi.
"Di situ, di dekat pohon besar itu..."
jawabnya sambil menunjuk pohon yang sangat besar.
Pria tua itu tidak menjawab, dia hanya mengikuti
langkah kaki pemuda itu yang terlihat sangat tergesa-gesa. Setelah sampai di
tempat yang di maksud rumah oleh pemuda itu, sungguh membuat pria itu terkejut.
tempat ini tidak seperti rumah, hanya sebuah pondok yang terbuat dari kayu tua
dan beratapkan jerami.
"Kyungsoo..." teriak pemuda itu dengan
sangat keras. Pria tua kaget setengah mati mendengar teriakannya dan langsung
melangkah masuk ke dalam gubuk reyot itu.
"Oh... tidak..." pria tua itu tidak
sanggup berkata-kata melihat keadaan seorang pemuda di depannya.
Sungguh menyedihkan, tubuhnya kurus dan wajahnya
sangat pucat, mulutnya mengeluarkan busa, di perutnya ada lilitan kain. Banyak
sampah makanan yang sudah berbau busuk berserakan di lantai.
"Dia keracunan..." ucap pria tua itu
setelah memeriksa keadaan anak laki-laki yang sudah jatuh pingsan dengan mata
terbelalak.
"Keracunan ?"
"Iya, ayo kita bawa ke rumah sakit.”
Mereka membawa anak anak laki-laki yang sedang
sekarat itu ke rumah sakit terdekat. Dokter dan suster segera membawanya ke
ruang UGD.
“Maaf, kamu tidak boleh masuk.” Ucap seorang
suster yang menghalangi pintu masuk saat pemuda berkulit kecoklatan itu
mengikuti dokter yang membawa adiknya.
“Biarkan saya melihat adik saya suster, saya
mohon ?” pintanya memelas, matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi kamu tetap tidak boleh masuk, tunggulah di
luar dan biarkan dokter memeriksanya.” Suster itu langsung memutup pintu UGD guna
mencegah pemuda itu memaksa untuk masuk.
Pemuda itu terduduk di depan pintu ruangan dimana
adiknya di periksa. Bajunya di basahi keringat dan air matanya mulai mengalir
deras bersama suara yang ikut keluar dari mulutnya.
“Dio….” Teriaknya sambil terisak pilu di depan
pintu, dia membuat orang-orang di koridor itu memandangnya.
Pria tua itu merasa iba melihat keadaan pemuda
itu, dia langsung menarik lengannya untuk berdiri dan duduk di tempat
semestinya yaitu kursi yang berjejer di dinding koridor rumah sakit.
“Kamu laki-lakikan ? kenapa menangis ?” tanya
pria tua itu sembari menyentuh lembut pundak pemuda malang itu.
“Dio… ini semua salahku… ini salahku…” teriaknya,
airmatanya sudah membasahi pipinya yang mulai memerah. Bahkan luka di wajah dan
tubuhnya tidak dia pikirkan lagi.
“Siapa namamu nak ?”
“Kim Jong in…” jawabnya lemah.
“Anak laki-laki itu adikmu ?”
“Iya, dia saudaraku satu-satunya.”
“Sebenarnya apa
yang terjadi ? kenapa adikmu sampai memakan makanan busuk ?” tanya pria
tua itu prihatin.
“Karena kami tidak punya uang untuk membeli
makanan, adikku menemukan makanan di dalam tong sampah dan membawanya pulang.”
Jawabnya sambil terus menangis.
“Dimana orang tua kalian ?”
“Ibuku sudah meninggal dan ayah…. Ayah di
penjara.” Jawabnya dengan suara begetar.
“Ya… Tuhan… apa kalian tinggal di rumah itu ?”
“Iya, rumah kami yang lama di sita dan kami kami
terpaksa tinggal di situ.Ayahku terlilit banyak hutang sampai kami yang harus
menanggung semuanya.” Jawabnya. Suara tangisannya semakin keras dan terdengar
sangat memilukan.
Luka di hidungnya kembali mengeluarkan darah, dia
merasakan sakit yang luar biasa yang membuat sekujur tubuhnya hampir mati rasa.
“Kenapa kamu luka-luka begini ?”
“Sa…saya… saya di pukuli karena saya…” jawabnya
ragu.
“Kenapa nak ? ceritakanlah, paman akan berusaha
menolongmu.”
“Sa..saya… saya mencuri di dalam sebuah toko,
pemiliknya melihat dan berteriak awalnya saya berhasil kabur namun ada seorang
pemuda yang tidak sengaja saya tabrak
dan saat itulah orang-orang yang mengejar saya memukuli dan membawa saya ke
kantor polisi.”
“Terus bagaimana ?”
“Karena laki-laki yang saya tabrak tadi merasa
kasihan dia menolong saya dan membebaskan saya, sebelum sempat berterima kasih
dia sudah pergi.” Jawabnya menjelaskan sembari menghapus air matanya yang terus
mengalir.
“Sudah… tenangkan dirimu, adikmu akan baik-baik
saja. Percayalah ?”
“Dari mana paman tahu ?”
“Adikmu hanya keracunan makanan, dia memakan
makanan yang hampir busuk dan juga kadaluarsa. Tapi dia akan baik-baik saja.”
Jawabnya sambil tersenyum.
Kai berdiri dengan raut wajah yang memilukan,
pria tua itu menahan kai saat dia mulai melangkah pergi, kai sebenarnya tidak
sanggup namun dia berusaha bertahan sekuat tenaga.
“Kamu mau kemana Jong in ?”
“Bisakah paman di sini sebentar saja.” Pintanya.
“Kenapa ?”
“Saya mau mencari uang untuk membiyayai pengobatan
adik saya.” Jawabnya. Kakinya kembali melangkah sambil terhuyung, perutnya yang
masih perih terpaksa di tahan.
“Jong in tunggu…” seru pria tua itu menghentikan
langkah kaki Kai.
“Ada apa paman ?”
“Kau tidak usah mencari uang, tetaplah disini dan
tunggu adikmu sampai dia sadar. Masalah biaya biar paman yang menanggungnya.”
“Tapi paman…”
“Sudahlah, tetaplah disini paman akan segera
kembali.” Ucapnya sambil bergegas pergi ke ruangan administrasi rumah sakit.
Kai terduduk lemah di seorang diri, dia masih
menahan perutnya yang terasa perih akibat pukulan benda keras di campur rasa
lapar yang luar biasa karena di tidak memakan apa pun sejak kemarin pagi.
“Anda Kim Jong in ? tanya seorang perawat yang
sudah berdiri di depan Kai.
“I…iya suster.” Jawab Kai sambil menelan ludah.
“Bisa ikut saya ke ruangan, dokter meminta anda
masuk untuk melakukan pengobatan terhadap luka-luka anda.”
“Tapi bagaimana dengan saudara saya ?”
“Saudara anda baik-baik saja, dia sudah sadar dan
anda bisa menemuinya nanti setelah luka anda di obati.” Jawab perawat itu
sambil tersenyum lembut.
“Baik suster.” Kai mengikuti perawat itu ke dalam
ruangan untuk di obati, setelah itu Kai masuk ke ruangan adiknya untuk melihat
keadaannya.
“Hyung… ?” seru Kyungsoo dengan suara lemah,
wajahnya masih terlihat pucat namun tidak seperah sebelum dia di bawa kerumah
sakit ini.
Kai terdiam menahan emosinya, matanya mulai
berkaca-kaca tapi dia berusaha menahannya. Dia tidak ingin adiknya melihatnya
sedang menangis.
“Kenapa ?” tanya Kai pelan.
“Hyung…” Kyungsoo tidak mengerti ucapan kakaknya,
dia hanya memandang wajah sang kakak dengan penuh penyesalan.
“Kenapa kau makan makanan itu ? kau mau mati ya…
kau mau mati dasar bodoh…” teriaknya membuat Kyungsoo terkejut.
“Ma…maafkan aku Hyung, maafkan aku…” Kyungsoo menangis,
dia sangat menyesal karena membuat kakaknya menangis.
“Bodoh… bodoh sekali kau…” Kai terus mengumpat,
kepalanya tertunduk. Air mata yang sudah dia tahan sekuat tenaga akhirnya
mengalir juga.
“Maafkan aku hyung… aku tidak tega melihat hyung
bekerja siang malam untuk membeli makanan dan obatku, aku mencarinya sendiri
dan aku tidak tahu makanan itu sudah kadaluarsa…” jawabnya dalam tangis.
Kai memeluk adiknya dengan erat, dia tidak
sanggup melihat adiknya hidup menderita seperti ini. Kai merasa dirinya tidak
berguna sebagai seorang kakak.
“Dio… maafkan hyung, maaf karena hyung tidak bisa
membuatmu bahagia…” Kai semakin terisak ketika dia mengingat wajah ibunya yang
meninggal dalam keadaan sakit dan kelaparan, dia melihat air mata ibunya
mengalir sesaat sebelum meninggal.
Rasa sakit di hatinya semakin menjadi ketika
mengingat sang ayah yang di tembaki polisi saat mencoba kabur ketika di
tangkap. Kai melihat keadaan ayahnya yang sungguh menyedihkan, kakinya terluka
parah karena terkena tembakan polisi belum, lagi tubuh ayahnya yang menjadi
kurus kering sejak menjadi pecandu narkoba.
“Hyung… kenapa aku bisa ada di rumah sakit ?
siapa yang akan membayar semua biayanya ?” tanya Kyungsoo sambil menghapus air
mata hyungnya.
“Ada seorang paman yang kutemui di halte bis, dia
sangat baik dan membawamu ke rumah sakit.” Jawab Kai.
“Dimana paman itu sekarang ?”
"Dia pergi ke ruang administrasi rumah sakit, katanya dia akan kembali lagi." jawab Kai.
Sekitar 30 menit kemudian Pria tua itu kembali danm masuk ke da;am ruangan tempat Kyungsoo di rawat.
"Halo anak muda... ?" sapa pria tua itu sembari melempar senyuman.
"Hah... ?"mata Kyungsoo melotot ketika melihat pria tua berwajah asing masuk kedalam ruangannya.
"Kenapa kaget begitu ?" tanya pria tua itu.
"Si...siapa anda ?" tanya Kyungsoo tak percaya.
"Dio sebenarnya paman ini yang menolong kita, dia yang membawamu ke rumah sakit." jawab kai.
"Benarkah ? terima kasih paman."
"Iya, bagaimana kedaanmu kyungsoo ?" tanya pria tua itu sambil mengusap lembut rambut kyungsoo.
"Saya sudah merasa lebih baik." jawabnya, dia merasa nyaman di elus seperti itu.
"Syukurlah kalau begitu."
"Oh iya paman, nama paman siapa ?" tanya Kai, dia sampai lupa menanyakan nama orang yang sudah membantunya.
"Nama paman Colin Morgan, kalian bisa memanggil paman Colin." jawabnya sambil duduk di atas sebuah kursi.
"Paman bekerja dimana ?" Kyungsoo kembali bertanya.
"Paman bekerja di laboratorium."
"Sebagai apa ?" tanya Kai.
"Profesor." jawabnya singkat.
"Apa ? profesor ?" tanya Kai dan kyungsoo serentak, mereka kaget tak menyangka orang yang menolong mereka adalah seorang profesor dari luar negeri.
Next...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar