Senin, 03 November 2014

FF EXO : THE BROWN AND THE WHITE MAN CHAPTER 2












udul      : The Brown and The White  Chapter 2
Author  : Azmi Evans
Cast      : Exo member, Prof. Colin Morgan, Hanna Morgan, Shin Airi, Siwon, Yesung and all cast
Genre    : Action, sains, brothership, romance, fantasy



Annyeonghaseyo...

Chapter 2
 The Sadly Man



Seoul, Korea selatan, 2015...

       Udara pagi ini begitu menyusuk, sudah mendekati awal musim dingin. Di pinggiran jalan banyak orang-orang berlalu lalang melakukan aktifitas masing-masing, di halte bus tampak seorang pemuda berkulit coklat duduk melamun memandangi orang-orang yang melintas di depannya. Pandangan matanya menerawang, dia seolah-olah kehilangan kesadaran namun matanya tetap tebuka lebar.
      Seorang pria tua bertopi kulit, berwajah seperti orang eropa melihat sosok pemuda aneh yang tidak beranjak dari tempatnya beberapa jam yang lalu, pria tua itu menyentuh kaca matanya dan menajamkan pandangannya pada sosok anak muda yang pandangannya terus menerawang. Pria tua itu menyadari ada yang aneh pada anak muda ini, kepalanya ada luka memar dan hidungnya masih tersisa darah yang sudah mengering, dan sudut bibirnya ada luka sobekan kecil namun tetap terlihat jelas.

"Permisi anak muda..." pria tua itu berusaha menyapa pemuda itu dengan ragu, namun dia merasa tidak tega jika melihat keadaan pemuda itu dari jarak yang dekat.

Pemuda itu hanya menoleh namun tetap diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun Pria tua berwajah asing itu tidak menyerah begitu saja.

"Nak, ada yang bisa saya bantu ?" tanya pria tua itu, dia cukup fasih berbahasa korea meski logatnya tidak sekental warga Korea yang asli.

Namun tetap tidak ada jawaban dari mulut pemuda itu, dia masih diam seribu bahasa. Tapi terlihat dari sorot matanya yang sendu, dia terlihat sangat sedih bukan hanya sedih lebih tepatnya dari sorot matanya dia terlihat begitu menderita, meskipun ini hanya dugaan pria tua itu saja.

"Nak... ?" tanya pria tua itu kembali, dia terkejut melihat tetesan bening keluar dari mata pemuda itu namun dia tetap tidak bersuara. Pemuda itu terlihat menahan air matanya sekuat tenaga, dia mengepalkan tangannya yang bergetar hebat.

"Kau baik-baik saja ?" pria tua itu mulai mengambil tindakan, dia menyentuh pundak pemuda berkulit putih kecoklatan itu.

"Ukh... !" ucapnya samar, dia seolah-olah mengeluhkan sesuatu. Pria tua itu duduk di samping pemuda itu, dia mencoba menenangkan anak muda yang baru saja dia temui.

"Jika ada sesuatu, katakan saja. Mungkin paman bisa menolongmu ?" tanya pria tua itu menawarkan bantuan

"A...adik...Adikku.." jawabnya terbata-bata, tubuhnya gemetar hebat sampai mengeluarkan keringat dingin.

"Kenapa dengan adikmu ?"

"To...tolong adikku... tolong selamatkan adikku... kalau tidak dia bisa mati" jawabnya lirih. Pria tua itu kaget mendengar ucapan pemuda itu, tepat seperti dugaannya ada yang tidak beres dengan anak ini saat pertama kali dia melihatnya.

"Dimana adikmu sekarang ?" tanya pria tua itu sambil berdiri dan mengangkat tasnya.

"Dirumah" jawabnya singkat.

"Kalau begitu, bawa paman kerumahmu sekarang... cepat !" perintahnya.

Dengan bergegas mereka menyetop sebuah taxi yang melintas dan membawa mereka ke sebuah tempat yang cukup terpencil.

"Dimana rumahmu ?" tanya pria tua itu. Dia bingung melihat keadaan di sekelilingnya tidak ada rumah, yang terlihat hanya padang bunga dan pepohonan yang tinggi.

"Di situ, di dekat pohon besar itu..." jawabnya sambil menunjuk pohon yang sangat besar.

Pria tua itu tidak menjawab, dia hanya mengikuti langkah kaki pemuda itu yang terlihat sangat tergesa-gesa. Setelah sampai di tempat yang di maksud rumah oleh pemuda itu, sungguh membuat pria itu terkejut. tempat ini tidak seperti rumah, hanya sebuah pondok yang terbuat dari kayu tua dan beratapkan jerami.
"Kyungsoo..." teriak pemuda itu dengan sangat keras. Pria tua kaget setengah mati mendengar teriakannya dan langsung melangkah masuk ke dalam gubuk reyot itu.

"Oh... tidak..." pria tua itu tidak sanggup berkata-kata melihat keadaan seorang pemuda di depannya.

Sungguh menyedihkan, tubuhnya kurus dan wajahnya sangat pucat, mulutnya mengeluarkan busa, di perutnya ada lilitan kain. Banyak sampah makanan yang sudah berbau busuk berserakan di lantai.

"Dia keracunan..." ucap pria tua itu setelah memeriksa keadaan anak laki-laki yang sudah jatuh pingsan dengan mata terbelalak.

"Keracunan ?"

"Iya, ayo kita bawa ke rumah sakit.”
Mereka membawa anak anak laki-laki yang sedang sekarat itu ke rumah sakit terdekat. Dokter dan suster segera membawanya ke ruang UGD.
“Maaf, kamu tidak boleh masuk.” Ucap seorang suster yang menghalangi pintu masuk saat pemuda berkulit kecoklatan itu mengikuti dokter yang membawa adiknya.
“Biarkan saya melihat adik saya suster, saya mohon ?” pintanya memelas, matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi kamu tetap tidak boleh masuk, tunggulah di luar dan biarkan dokter memeriksanya.” Suster itu langsung memutup pintu UGD guna mencegah pemuda itu memaksa untuk masuk.
Pemuda itu terduduk di depan pintu ruangan dimana adiknya di periksa. Bajunya di basahi keringat dan air matanya mulai mengalir deras bersama suara yang ikut keluar dari mulutnya.
“Dio….” Teriaknya sambil terisak pilu di depan pintu, dia membuat orang-orang di koridor itu memandangnya.
Pria tua itu merasa iba melihat keadaan pemuda itu, dia langsung menarik lengannya untuk berdiri dan duduk di tempat semestinya yaitu kursi yang berjejer di dinding koridor rumah sakit.
“Kamu laki-lakikan ? kenapa menangis ?” tanya pria tua itu sembari menyentuh lembut pundak pemuda malang itu.
“Dio… ini semua salahku… ini salahku…” teriaknya, airmatanya sudah membasahi pipinya yang mulai memerah. Bahkan luka di wajah dan tubuhnya tidak dia pikirkan lagi.
“Siapa namamu nak ?”
“Kim Jong in…” jawabnya lemah.
“Anak laki-laki itu adikmu ?”
“Iya, dia saudaraku satu-satunya.”
“Sebenarnya apa  yang terjadi ? kenapa adikmu sampai memakan makanan busuk ?” tanya pria tua itu prihatin.
“Karena kami tidak punya uang untuk membeli makanan, adikku menemukan makanan di dalam tong sampah dan membawanya pulang.” Jawabnya sambil terus menangis.
“Dimana orang tua kalian ?”
“Ibuku sudah meninggal dan ayah…. Ayah di penjara.” Jawabnya dengan suara begetar.
“Ya… Tuhan… apa kalian tinggal di rumah itu ?”
“Iya, rumah kami yang lama di sita dan kami kami terpaksa tinggal di situ.Ayahku terlilit banyak hutang sampai kami yang harus menanggung semuanya.” Jawabnya. Suara tangisannya semakin keras dan terdengar sangat memilukan.
Luka di hidungnya kembali mengeluarkan darah, dia merasakan sakit yang luar biasa yang membuat sekujur tubuhnya hampir mati rasa.
“Kenapa kamu luka-luka begini ?”
“Sa…saya… saya di pukuli karena saya…” jawabnya ragu.
“Kenapa nak ? ceritakanlah, paman akan berusaha menolongmu.”
“Sa..saya… saya mencuri di dalam sebuah toko, pemiliknya melihat dan berteriak awalnya saya berhasil kabur namun ada seorang pemuda  yang tidak sengaja saya tabrak dan saat itulah orang-orang yang mengejar saya memukuli dan membawa saya ke kantor polisi.”
“Terus bagaimana ?”
“Karena laki-laki yang saya tabrak tadi merasa kasihan dia menolong saya dan membebaskan saya, sebelum sempat berterima kasih dia sudah pergi.” Jawabnya menjelaskan sembari menghapus air matanya yang terus mengalir.
“Sudah… tenangkan dirimu, adikmu akan baik-baik saja. Percayalah ?”
“Dari mana paman tahu ?”
“Adikmu hanya keracunan makanan, dia memakan makanan yang hampir busuk dan juga kadaluarsa. Tapi dia akan baik-baik saja.” Jawabnya sambil tersenyum.
Kai berdiri dengan raut wajah yang memilukan, pria tua itu menahan kai saat dia mulai melangkah pergi, kai sebenarnya tidak sanggup namun dia berusaha bertahan sekuat tenaga.
“Kamu mau kemana Jong in ?”
“Bisakah paman di sini sebentar saja.” Pintanya.
“Kenapa ?”
“Saya mau mencari uang untuk membiyayai pengobatan adik saya.” Jawabnya. Kakinya kembali melangkah sambil terhuyung, perutnya yang masih perih terpaksa di tahan.
“Jong in tunggu…” seru pria tua itu menghentikan langkah kaki Kai.
“Ada apa paman ?”
“Kau tidak usah mencari uang, tetaplah disini dan tunggu adikmu sampai dia sadar. Masalah biaya biar paman yang menanggungnya.”
“Tapi paman…”
“Sudahlah, tetaplah disini paman akan segera kembali.” Ucapnya sambil bergegas pergi ke ruangan administrasi rumah sakit.
Kai terduduk lemah di seorang diri, dia masih menahan perutnya yang terasa perih akibat pukulan benda keras di campur rasa lapar yang luar biasa karena di tidak memakan apa pun sejak kemarin pagi.
“Anda Kim Jong in ? tanya seorang perawat yang sudah berdiri di depan Kai.
“I…iya suster.” Jawab Kai sambil menelan ludah.
“Bisa ikut saya ke ruangan, dokter meminta anda masuk untuk melakukan pengobatan terhadap luka-luka anda.”
“Tapi bagaimana dengan saudara saya ?”
“Saudara anda baik-baik saja, dia sudah sadar dan anda bisa menemuinya nanti setelah luka anda di obati.” Jawab perawat itu sambil tersenyum lembut.
“Baik suster.” Kai mengikuti perawat itu ke dalam ruangan untuk di obati, setelah itu Kai masuk ke ruangan adiknya untuk melihat keadaannya.
“Hyung… ?” seru Kyungsoo dengan suara lemah, wajahnya masih terlihat pucat namun tidak seperah sebelum dia di bawa kerumah sakit ini.
Kai terdiam menahan emosinya, matanya mulai berkaca-kaca tapi dia berusaha menahannya. Dia tidak ingin adiknya melihatnya sedang menangis.
“Kenapa ?” tanya Kai pelan.
“Hyung…” Kyungsoo tidak mengerti ucapan kakaknya, dia hanya memandang wajah sang kakak dengan penuh penyesalan.
“Kenapa kau makan makanan itu ? kau mau mati ya… kau mau mati dasar bodoh…” teriaknya membuat Kyungsoo terkejut.
“Ma…maafkan aku Hyung, maafkan aku…” Kyungsoo menangis, dia sangat menyesal karena membuat kakaknya menangis.
“Bodoh… bodoh sekali kau…” Kai terus mengumpat, kepalanya tertunduk. Air mata yang sudah dia tahan sekuat tenaga akhirnya mengalir juga.
“Maafkan aku hyung… aku tidak tega melihat hyung bekerja siang malam untuk membeli makanan dan obatku, aku mencarinya sendiri dan aku tidak tahu makanan itu sudah kadaluarsa…” jawabnya dalam tangis.
Kai memeluk adiknya dengan erat, dia tidak sanggup melihat adiknya hidup menderita seperti ini. Kai merasa dirinya tidak berguna sebagai seorang kakak.
“Dio… maafkan hyung, maaf karena hyung tidak bisa membuatmu bahagia…” Kai semakin terisak ketika dia mengingat wajah ibunya yang meninggal dalam keadaan sakit dan kelaparan, dia melihat air mata ibunya mengalir sesaat sebelum meninggal.
Rasa sakit di hatinya semakin menjadi ketika mengingat sang ayah yang di tembaki polisi saat mencoba kabur ketika di tangkap. Kai melihat keadaan ayahnya yang sungguh menyedihkan, kakinya terluka parah karena terkena tembakan polisi belum, lagi tubuh ayahnya yang menjadi kurus kering sejak menjadi pecandu narkoba.
“Hyung… kenapa aku bisa ada di rumah sakit ? siapa yang akan membayar semua biayanya ?” tanya Kyungsoo sambil menghapus air mata hyungnya.
“Ada seorang paman yang kutemui di halte bis, dia sangat baik dan membawamu ke rumah sakit.” Jawab Kai.
“Dimana paman itu sekarang ?” 
"Dia pergi ke ruang administrasi rumah sakit, katanya dia akan kembali lagi." jawab Kai.

   Sekitar 30 menit kemudian Pria tua itu kembali danm masuk ke da;am ruangan tempat Kyungsoo di rawat. 

"Halo anak muda... ?" sapa pria tua itu sembari melempar senyuman.
"Hah... ?"mata Kyungsoo melotot ketika melihat pria tua berwajah asing masuk kedalam ruangannya.
"Kenapa kaget begitu ?" tanya pria tua itu.
"Si...siapa anda ?" tanya Kyungsoo tak percaya.
"Dio sebenarnya paman ini yang menolong kita, dia yang membawamu ke rumah sakit." jawab kai.
"Benarkah ? terima kasih paman." 
"Iya, bagaimana kedaanmu kyungsoo ?" tanya pria tua itu sambil mengusap lembut rambut kyungsoo.
"Saya sudah merasa lebih baik." jawabnya, dia merasa nyaman di elus seperti itu.
"Syukurlah kalau begitu."
"Oh iya paman, nama paman siapa ?" tanya Kai, dia sampai lupa menanyakan nama orang yang sudah membantunya.
"Nama paman Colin Morgan, kalian bisa memanggil paman Colin." jawabnya sambil duduk di atas sebuah kursi.
"Paman bekerja dimana ?" Kyungsoo kembali bertanya.
"Paman bekerja di laboratorium."
"Sebagai apa ?" tanya Kai.
"Profesor." jawabnya singkat.
"Apa ? profesor ?" tanya Kai dan kyungsoo serentak, mereka kaget tak menyangka orang yang menolong mereka adalah seorang profesor dari luar negeri.




Next...















Tidak ada komentar:

Posting Komentar